<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Valent&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://emovalent.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://emovalent.wordpress.com</link>
	<description>a bunch of random moments, events, dreams, thoughts, actions, reactions, and inspiration composing my extraordinary life&#039;s story</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Sep 2011 00:56:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='emovalent.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/21cc966bfba274b74625d7ec46ea0a71?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Valent&#039;s Blog</title>
		<link>http://emovalent.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://emovalent.wordpress.com/osd.xml" title="Valent&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://emovalent.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>abstrak</title>
		<link>http://emovalent.wordpress.com/2010/12/28/abstrak/</link>
		<comments>http://emovalent.wordpress.com/2010/12/28/abstrak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Dec 2010 20:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emovalent</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>
		<category><![CDATA[Faith Hope and Love]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[Poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emovalent.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[dulu sekali.. sudah sangat lama.. saya pernah merasakan nikmatnya mencintai &#8230;. dulu sekali.. sudah sangat lama.. saya pernah merasakan nikmatnya dicintai &#8230;. dulu sekali.. sudah sangat lama.. sangat sangat lama.. sampai tak ada lagi memori terekam, buyar saja.. abu-abu, abstrak, random tak terdefinisikan &#8230;. dan aku memilih bendera putih-tanda menyerah mengangkat kedua tangan-tanda pasrah entah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=222&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>dulu sekali..</p>
<p>sudah sangat lama..</p>
<p>saya pernah merasakan nikmatnya mencintai</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>dulu sekali..</p>
<p>sudah sangat lama..</p>
<p>saya pernah merasakan nikmatnya dicintai</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>dulu sekali..</p>
<p>sudah sangat lama..</p>
<p>sangat sangat lama..</p>
<p>sampai tak ada lagi memori terekam, buyar saja..</p>
<p>abu-abu, abstrak, random</p>
<p>tak terdefinisikan</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>dan aku memilih bendera putih-tanda menyerah</p>
<p>mengangkat kedua tangan-tanda pasrah</p>
<p>entah dicintai entah mencintai</p>
<p>sama saja, tetap abstrak bagiku kini</p>
<p>&#8230;..</p>
<p>karena cinta..</p>
<p>rasa-rasanya telah tertelan fakta</p>
<p>diteguk realita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>uploaded also in <a href="http://www.emovalent.tumblr.com" target="_blank">www.emovalent.tumblr.com</a></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/poetry/'>Poetry</a> Tagged: <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/faith-hope-and-love/'>Faith Hope and Love</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/love/'>love</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/poem/'>Poem</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emovalent.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emovalent.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emovalent.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emovalent.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emovalent.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emovalent.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emovalent.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emovalent.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emovalent.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emovalent.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emovalent.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emovalent.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emovalent.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emovalent.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=222&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emovalent.wordpress.com/2010/12/28/abstrak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/893a4c6e17cdb4c1b9a16455136d673f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emovalent</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POTRET KOTA JAKARTA YANG IRONIS “Pembelajaran dari Hujan dan Kaum Marjinal” Part Three-End</title>
		<link>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/31/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-three-end/</link>
		<comments>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/31/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-three-end/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Oct 2010 14:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emovalent</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>
		<category><![CDATA[Faith Hope and Love]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[teknik kimia UI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emovalent.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa dari mereka malu ketika ditanyai, tapi toh dijawab juga. Suwandi kelas satu SD, baru saja 3 bulan ia di sana. Entah bagaimana hatinya terpisah dari orang tua, entah berapa banyak air mata yang mungkin ia tumpahkan setiap malam, tapi sore itu, ia tetap ceria dan tersenyum. Namun, ada sesuatu, sesuatu dari cara ia memandang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=214&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 345px"><img title="Assurur dan anak2nya" src="http://emovalent.files.wordpress.com/2010/10/fahridansantri.jpg?w=335&#038;h=197" alt="" width="335" height="197" /><p class="wp-caption-text">Santri</p></div>
<p>Beberapa dari mereka malu ketika ditanyai, tapi toh dijawab juga. Suwandi kelas satu SD, baru saja 3 bulan ia di sana. Entah bagaimana hatinya terpisah dari orang tua, entah berapa banyak air mata yang mungkin ia tumpahkan setiap malam, tapi sore itu, ia tetap ceria dan tersenyum. Namun, ada sesuatu, sesuatu dari cara ia memandang, betapa ia haus kasih. Ia tak hanya butuh teman, ia butuh dekat dengan orang tuanya.</p>
<p>Yogi, entah kelas berapa, tapi ia tak pernah tak tersenyum, apapun yang ditanya. Ia punya hobi main bola. Tapi lapangan yang tak seberapa itu harus ia rela bagikan dengan 60 orang temannya, yang rata-rata punya hobi serupa. Betapa hatinya lapang dan rela, dan sesungguhnya di hati lapang itu lah bola-bola kehidupan harus ia mainkan untuk mencetak goal demi goal di masa depan.</p>
<p>Dan yang paling menarik adalah Wildan, sudah beranjak dewasa, usia SMA, tapi masih sangat polos, masih malu-malu, tidak arogan, sungguh berbeda dengan anak-anak SMA yang saya temukan di mal-mal dengan “handphone qwerty ber-PIN.” Ia punya cita-cita, sederhana, tapi menyayat hati saat saya dengar jawabannya, yaitu jadi Guru. Mengapa? Sebab hanya itu pekerjaan mulia yang bisa ia capai. Apalah dayanya ia untuk jadi dokter? Atau Insinyur? Uang pendidikan yang kian mahal, mampukah ia membayarnya? Jika logika manusia bermain, tak mampulah ia.</p>
<p>Mereka sama-sama tersenyum, mereka sama-sama saling merangkul, dan mereka pun sama-sama punya mata yang kosong. Masih menerawang akan masa depan mereka, masih tak terbayang apa jadinya mereka nanti. Cita-cita. Mereka punya itu, tapi tak mampu mereka gantungkan setinggi bintang. Semua tertabrak oleh realita kehidupan bahwa mereka kaum marginal, bahwa mereka tersisihkan.</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Adzan maghrib berkumandang, mengingatkan setiap orang di sana untuk berhenti dari aktifitas. Mereka harus menunaikan ibadah mereka dan banyak-banyak memohon pada Allah. Bukan demi harta, bukan demi pencapaian, tapi demi kasih, sebab hanya Allah yang Maha Pengasih yang mampu memuaskan batin mereka. Agungnya suara adzan mengakhiri kunjungan kami dengan indah sore itu. Setelah mengambil foto-foto ala kadarnya, kami memutuskan untuk segera pulang.</p>
<p>Mobil Martin meninggalkan pelataran Panti Assurur di belakang kami, terus melaju melewati gang-gang sempit dengan rumah-rumah sederhana. Kami terus melesat dan sampai di ujung gang, melewati jalan-jalan besar yang biasa kami lewati. Jalan raya yang basah memantulkan warna merah dan oranye dari lampu kendaraan-kendaraan bermotor. Sungguh kami disuguhi dengan pemandangan metropolitan yang gemerlap, indah dan menawan, padahal jarak panti belum terlalu jauh di belakang. Sungguh, potret Kota Jakarta yang IRONIS.</p>
<blockquote><p><span style="color:#339966;"><em>&#8230;..Awan-awan hitam yang merupakan kumpulan uap-uap air terkondensasi, sekalipun mereka telah menjelajah angkasa, mengitari bumi, uap-uap itu harus tetap kembali lagi jatuh ke bumi. Satu persatu titik-titik air itu harus meninggalkan tahtanya di atas sana, bersiap-siap meluncur ribuan kilometer dari atas ke bawah, sesekali meliuk-liuk terbawa angin kencang&#8230;..</em></span></p></blockquote>
<p>Malam  itu, Jakarta masih basah. Butiran air masih berlomba-lomba untuk menghujam tanah. Uap air yang sudah naik tinggi ke langit sana, ke dekat matahari, harus melesat turun lagi ke bumi. Begitulah kami diingatkan hari itu: Bahwa seberapa tinggipun kami telah melesat, kami harus tetap “turun” untuk membasahi hati yang kering dengan kasih dan cinta. Seperti air yang terus bersiklus, sesekali naik, tapi harus turun juga, dengan demikianlah bumi ini terjaga keseimbangannya. Dan dengan kasih yang dibagikanlah, maka dunia ini pun mencapai keseimbangannya.</p>
<p>Entah bagaimana dengan Martin, tapi saya pulang dengan hati yang sama sekali berbeda dengan saat saya baru datang. Saya datang dengan motivasi “asal tugas dari dosen bisa selesai”. Namun saya pulang dengan hati “tugas saya sebagai seorang yang dikaruniai berkali-kali lipat kelimpahan, belum selesai. Tidak..tidak akan selesai sampai dua hal ini terjadi: saya pulang ke rumah Bapa, atau tidak ada lagi kata kaum marjinal, kaum dhuafa, dan kaum miskin di muka bumi ini.”</p>
<p>&#8230;<em>end of story&#8230;</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/inspirational/'>inspirational</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/story/'>story</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/ui/'>UI</a> Tagged: <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/faith-hope-and-love/'>Faith Hope and Love</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/kuliah/'>kuliah</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/passion/'>passion</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/teknik-kimia-ui/'>teknik kimia UI</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emovalent.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emovalent.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emovalent.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emovalent.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emovalent.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emovalent.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emovalent.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emovalent.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emovalent.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emovalent.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emovalent.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emovalent.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emovalent.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emovalent.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=214&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/31/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-three-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/893a4c6e17cdb4c1b9a16455136d673f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emovalent</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://emovalent.files.wordpress.com/2010/10/fahridansantri.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Assurur dan anak2nya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POTRET KOTA JAKARTA YANG IRONIS “Pembelajaran dari Hujan dan Kaum Marjinal” Part Two</title>
		<link>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/26/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-two/</link>
		<comments>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/26/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-two/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 15:54:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emovalent</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>
		<category><![CDATA[Faith Hope and Love]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[teknik kimia UI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emovalent.wordpress.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Gedung panti itu cukup besar untuk menampung 90 anak yang 90% di antaranya adalah yatim. Dengan cat hijau, rumah itu terlihat bersih dan cukup megah dari luar. Ternyata, sebagian gedung itu juga digunakan sebagai sekolah umum, ada SD dan SMP. Adapula fasilitas pendukung seperti Masjid dan lapangan upacara. Di luar, semua tampak asri dengan pepohonan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=211&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gedung panti itu cukup besar untuk menampung 90 anak yang 90% di antaranya adalah yatim. Dengan cat hijau, rumah itu terlihat bersih dan cukup megah dari luar. Ternyata, sebagian gedung itu juga digunakan sebagai sekolah umum, ada SD dan SMP. Adapula fasilitas pendukung seperti Masjid dan lapangan upacara. Di luar, semua tampak asri dengan pepohonan rindang dan hijau. Apalagi dengan cuaca hujan,  tempat itu terlihat tenang dan teduh, karena tak banyak anak-anak yang berkeliaran diluar. Bahkan kami sempat menyimpulkan bahwa panti ini tergolong panti yang mampu.</p>
<p>Perbincangan dimulai di ruangan sekretariat. Ruangan yang rapih, bahkan ada fasilitas berupa komputer. Ada juga beberapa bingkai dengan foto sejumlah pengurus serta beberapa foto dengan pejabat dan orang-orang penting yang pernah berkunjung kesana. Pertama kali tentunya dengan suatu sapaan. Sapaan yang penuh malu, tapi sarat hormat dan penghargaan, senang karena ada yang berkunjung. Khamil namanya, dan kami memanggilnya mas Khamil. Masih muda, tampan dan enak dipandang. Matanya teduh dan tenang. Mas Khamil adalah seorang santri lulusan dari panti Assurur dan setelah lulus ia memutuskan membalas jasa panti ini yang telah merawatnya  dengan menjadi salah satu pengurus panti ini. Khamil menceritakan sedikit latar belakangnya di mana keluarganya tak cukup mampu untuk membiayai penghidupannya sehingga keluarganya memutuskan untuk menaruh ia di pesantren Assurur ini. Dia sudah ada di panti ini semenjak ia berusia sepantaran anak SMP hingga sekarang ia sudah lulus pendidikan SMA.</p>
<p>Mas Khamil bersama 12 orang pengurus lainnya bersama-sama berusaha menjamin 90 anak panti (60 santri dan 30 santriwati) mendapatkan penghidupan yang selayak-layaknya. Mereka memberikan edukasi formal maupun non-formal, edukasi keagamaan, pakaian, makanan, perlindungan dan yang terpenting adalah kasih. Merangkul. Satu kata dari visi didirikannya panti ini. Visi yang agung, bahwa mereka ingin merangkul kaum-kaum marginal sekalipun mereka pun bukan orang yang terangkul. Dengan saling merangkul, bahu membahu, mereka berharap dapat lebih kuat dan lebih bermanfaat di dalam hidup mereka.</p>
<p>Mas Khamil pun melanjutkan banyak hal-hal menyenangkan yang ia alami. Beberapa artis dan pejabat pernah berkunjung, menapakkan kaki mereka di tempat kaum dhuafa, menyempatkan diri mereka untuk sekedar menengok, berbagi nikmat dan mengingatkan mereka bahwa betapa tinggi mereka telah jauh melesat, masih ada kaum-kaum marjinal yang memerlukan uluran tangan mereka. Setidaknya, tangan mereka lebih kuat, lebih kokoh dan “berkualitas” untuk merangkul.</p>
<p>Setelah sedikit banyak bertanya jawab, kami meminta izin untuk masuk ke gedung hijau itu, masuk lebih dalam ke kehidupan sebenarnya di panti ini. Kami ingin melewati gerbang kantor secretariat yang nyaman itu, kami ingin menyentuh apa yang sebenarnya ada di dalam sana. Syukur karena kami diperbolehkan untuk masuk ke dalam, meskipun hanya mengunjungi kamar para santri. Ya Tuhan, betapa benar kata pepatah, “don’t judge the book by its cover”. Ketika sudah menapakkan kaki di dalam, kami seakan baru tersadarkan bahwa kami sedang di panti asuhan. Gedung ini belum punya fasilitas yang layak. Penerangan yang hampir tidak ada, hanya ada beberapa buah lampu, remang-remang. Ruangan tidur bagi 60 santri itu hanya dilengkapi beberapa helai kasur, lebih banyak yang tidur di lantai, itu pun tak dengan alas, langsung bertemu lantai. Ruangan itu sangat besar sekali, tak ada banyak sekat, semua seakan tidur di satu ruangan yang sangat besar, seperti bangsal. Kalaupun ada sekat, hanya menggunakan triplek yang sudah rapuh termakan rayap. Ruangan juga agak bau dan apek karena  beberapa perabot yang sudah tua dan jarang dibersihkan.</p>
<p>Di ruangan itu, kami bertemu dengan sekitar 15-20 santri. Mulai dari kelas 1 sd sampai SMA. Mereka semua malu-malu, ragu untuk menjabat, tapi sekali menjabat, tangan kami diciumi, sungguh tanda hormat. Kulit mereka hitam, legam, rambut disisir apa adanya, pakaian juga sudah kusam dan lusuh. Sepatu di taruh sembarangan, tak peduli siapa yang akan tidur di sana nanti malam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8230;<em>to be continued&#8230;</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/inspirational/'>inspirational</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/story/'>story</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/ui/'>UI</a> Tagged: <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/faith-hope-and-love/'>Faith Hope and Love</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/passion/'>passion</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/teknik-kimia-ui/'>teknik kimia UI</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emovalent.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emovalent.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emovalent.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emovalent.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emovalent.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emovalent.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emovalent.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emovalent.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emovalent.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emovalent.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emovalent.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emovalent.wordpress.com/211/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emovalent.wordpress.com/211/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emovalent.wordpress.com/211/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=211&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/26/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-two/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/893a4c6e17cdb4c1b9a16455136d673f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emovalent</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>POTRET KOTA JAKARTA YANG IRONIS “Pembelajaran dari Hujan dan Kaum Marjinal”  Part One</title>
		<link>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/24/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-one/</link>
		<comments>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/24/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-one/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 14:37:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emovalent</dc:creator>
				<category><![CDATA[inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[UI]]></category>
		<category><![CDATA[Faith Hope and Love]]></category>
		<category><![CDATA[Marginal]]></category>
		<category><![CDATA[passion]]></category>
		<category><![CDATA[teknik kimia UI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emovalent.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta basah kuyup hari itu. Matahari pukul 12 pun tak terasa, tak terik, tak menusuk tulang, dan tak menyayat kulit seperti biasanya. Jakarta yang berbeda dan tak wajar. Ahh tentu saja..saya baru menyadari maksud dari keanehan ini. Hari itu bulan Oktober, masih minggu pertama pula. Kalau menurut pelajaran di masa kecil dulu, Oktober adalah bulan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=208&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jakarta basah kuyup hari itu. Matahari pukul 12 pun tak terasa, tak terik, tak menusuk tulang, dan tak menyayat kulit seperti biasanya. Jakarta yang berbeda dan tak wajar. Ahh tentu saja..saya baru menyadari maksud dari keanehan ini. Hari itu bulan Oktober, masih minggu pertama pula. Kalau menurut pelajaran di masa kecil dulu, Oktober adalah bulan pertama dari musim penghujan di bumi pertiwi, Indonesia. Ternyata masih berlaku perhitungan itu, Oktober sampai April adalah musim hujan. Setelah isu pemanasan global dikumandangkan di segala penjuru dunia, setelah perubahan iklim terjadi di seluruh dunia, nyatanya Oktober tahun ini tetap di awali dengan hujan, yang bagi saya memberikan keindahan dan kenikmatan tersendiri.</p>
<p>Di hari itu, seakan gaya gravitasi bekerja lebih kuat dari biasanya, menarik awan-awan untuk berkumpul, membentuk gumpalan-gumpalan hitam yang pergerakannya menciptakan energi-energi listrik di langit sana. Petir dan Guntur bersahut-sahutan, menabuh gendang-gendang raksasa yang suaranya sampai ke permukaan tanah, menyalakan kilatan-kilatan terang penuh energi listrik, menambah agungnya potret musim hujan dan sekaligus mengejutkan segenap makhluk di bawahnya. Awan-awan hitam yang merupakan kumpulan uap-uap air terkondensasi, sekalipun mereka telah menjelajah angkasa, mengitari bumi, uap-uap itu harus tetap kembali lagi jatuh ke bumi. Satu persatu titik-titik air itu harus meninggalkan tahtanya di atas sana, bersiap-siap meluncur ribuan kilometer dari atas ke bawah, sesekali meliuk-liuk terbawa angin kencang. Ada yang menghujam aspal jalanan, lalu terpecah dan mengalir kemanapun dia menemukan jalan. Ada yang jatuh di atas genting rumah atau di daun-daun dan dahan untuk meluncur turun ke atas tanah, yang tetesan-tetesannya terlihat indah, seperti permata. Ada yang jatuh tepat di atas genangan air dan membentuk pusaran-pusaran kecil lalu bergelombang semakin besar dan mencari tepinya.</p>
<p>Hari itu hari Minggu, 3 Oktober 2010, dua mahasiswa telah bersepakat, berjanji untuk bertemu dan melakukan hal yang tak biasa mereka lakukan. Dua dari beribu-ribu mahasiswa di Universitas yang mengusung nama negeri Indonesia. Dua orang dari 80an mahasiswa yang mengambil mata kuliah tentang Etika di fakultas teknik dengan Bapak Raldi sebagai dosen mereka. Dua orang itu adalah saya sendiri, Valent dan teman saya, Martin. Keberuntungan telah mengelompokkan saya dan Martin yang memiliki rumah berdekatan untuk berada dalam kelompok yang sama dalam mengerjakan suatu hal yang sudah jarang kami lakukan. Hal itu sebenarnya biasa saja, yaitu mengerjakan tugas, tapi tugasnya unik, seunik dosen yang memberikan, yaitu berkunjung ke tempat-tempat di mana kaum marjinal tidak dimarjinalisasikan. Tempat-tempat di mana mereka yang tersingkir dan yang dipandang sebelah mata, mendapatkan penghargaan dari orang-orang yang punya hati mulia.</p>
<p>Melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran, kami memilih kunjungan ke panti asuhan anak-anak. Karena di sanalah kami bisa mengeksplor lebih banyak hal, lebih leluasa untuk bertanya dan mencari informasi tanpa harus dicurigai.</p>
<p>“Mereka masih anak-anak, masih polos, jadi kita bisa bertanya apa saja”, kata saya.</p>
<p>“Ahh benar juga, kita mungkin hanya perlu menyiapkan sedikit souvenir, sekedar coklat atau permen”, Martin menyetujui.</p>
<p>Dengan tempat tinggal yang berdekatan, mudah bagi kami untuk menentukan panti mana yang harus kami kunjungi. Ya, di mana lagi kalau tidak mencari panti terdekat, yaitu di kawasan Kebon Jeruk? Menggunakan fasilitas internet, tanya Google, dan kami menemukan satu panti asuhan yang sangat menarik, Panti Asuhan Assurur namanya. Panti ini sekaligus merupakan pesantren, jadi pengajarannya sangat sarat dengan Islam. Letak panti Assurur tak begitu jauh dari tempat kami tinggal, tapi kami sempat beberapa kali tersasar. Gedung ini memang agak terpencil dan tersembunyi di tengah-tengah padatnya pemukiman penduduk. Sungguh menyedihkan. Anak-anak marjinal dan tinggal di tempat yang terpinggirkan. Anak-anak yang dipandang sebelah mata dan tinggal di tempat yang tak terlihat. Ahh…agak tersayat hati saya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8230; <em>to be continued&#8230;</em></p>
<br />Filed under: <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/inspirational/'>inspirational</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/story/'>story</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/ui/'>UI</a> Tagged: <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/faith-hope-and-love/'>Faith Hope and Love</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/marginal/'>Marginal</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/passion/'>passion</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/teknik-kimia-ui/'>teknik kimia UI</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emovalent.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emovalent.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emovalent.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emovalent.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emovalent.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emovalent.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emovalent.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emovalent.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emovalent.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emovalent.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emovalent.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emovalent.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emovalent.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emovalent.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=208&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/24/potret-kota-jakarta-yang-ironis-%e2%80%9cpembelajaran-dari-hujan-dan-kaum-marjinal%e2%80%9d-part-one/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/893a4c6e17cdb4c1b9a16455136d673f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emovalent</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aksi &#8211; Reaksi</title>
		<link>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/03/aksi-reaksi/</link>
		<comments>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/03/aksi-reaksi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Oct 2010 07:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>emovalent</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poetry]]></category>
		<category><![CDATA[Faith Hope and Love]]></category>
		<category><![CDATA[Poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emovalent.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[ah katanya rajin mau ini mau itu tapi cuma diam tanpa aksi apalagi reaksi &#8230; ahh katanya ingin segera selesai tapi semua hanya tersentuh hanya halaman depannya saja tak tuntas betapa tidak efektif betapa tidak efisien &#8230; lantas, apa yang akan ku katakan? lantas, bagaimana pertanggung jawabannya? .. ahh hanya diam tak ada aksi apalagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=205&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ah katanya rajin</p>
<p>mau ini mau itu</p>
<p>tapi cuma diam</p>
<p>tanpa aksi</p>
<p>apalagi reaksi</p>
<p>&#8230;</p>
<p>ahh katanya ingin segera selesai</p>
<p>tapi semua hanya tersentuh</p>
<p>hanya halaman depannya saja</p>
<p>tak tuntas</p>
<p>betapa tidak efektif</p>
<p>betapa tidak efisien</p>
<p>&#8230;</p>
<p>lantas, apa yang akan ku katakan?</p>
<p>lantas, bagaimana pertanggung jawabannya?</p>
<p>..</p>
<p>ahh</p>
<p>hanya diam</p>
<p>tak ada aksi</p>
<p>apalagi reaksi</p>
<br />Filed under: <a href='http://emovalent.wordpress.com/category/poetry/'>Poetry</a> Tagged: <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/faith-hope-and-love/'>Faith Hope and Love</a>, <a href='http://emovalent.wordpress.com/tag/poem/'>Poem</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emovalent.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emovalent.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emovalent.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emovalent.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emovalent.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emovalent.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emovalent.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emovalent.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emovalent.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emovalent.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emovalent.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emovalent.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emovalent.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emovalent.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emovalent.wordpress.com&amp;blog=8075133&amp;post=205&amp;subd=emovalent&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emovalent.wordpress.com/2010/10/03/aksi-reaksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/893a4c6e17cdb4c1b9a16455136d673f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emovalent</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
